Blogger Template by Blogcrowds


siapa sih mau terluka, umumnya setiap kita berharap hidup sejahtera bahagia trus matinya masuk surga. namun nyatanya hidup tidak seperti itu, kadang keadaan memaksa terjadinya pergesekan yang menimbulkan bilur-bilur luka, yahhh dengan sangat menyesal kita harus terluka dan merasakan perihnya. Celakanya tidak semua orang mau mengakui dan berani melihat lukanya untuk kemudian melalui kepedihannya.... MOHON SEGERA BIUS LUKA SAYA.... Perasaan sakit kandang bukan bersumber dari lukanya tapi bagaimana cara individu mempersepsi luka itu.
Mungkin sebagian dari kita masih mengingat sepenggal lagu dangdut milik Meggy Z, "...daripada sakit hati lebih baik sakit gigi ini biar tak mengapa.."
hoho... pada beberapa orang hati atau perasaan yang tersakiti dirasa lebih buruk dari pada sakit fisik. Nah ternyata pesan dalam lagu dangdut ini juga yang tanpa sadar menjadi filosofi kelompok manusia yang terus tak mau menghadapi perasaan tersakiti. Setidaknya ini bukan pendapat subjektif saya. Gosip dari buku yang saya baca, salah satu kelompok dimaksud adalah mereka yang terjun bebas dalam dunia adiksi persisnya pernyalahgunaan obat dan alkohol. Katanya lagi rata-rata para pengguna menyatakan alasan mereka memakai obat-obatan terlarang tersebut adalah untuk menghendalikan perasaan terluka, sementara alasan para alkoholik, minum-minuman beralkohol dimaksudkan untuk mengaburkan perasaan terluka akan aspek-aspek tertentu dalam hidupnya.

Dugaan mendasar dalam penelitian tersebut adalah "alkohol dapat mengurangi kesadaran mengenai proses-proses mental dalam diri (self-consciousness), dan para alkoholik umumnya adalah orang-orang yang memiliki self-consciusnes yang tinggi, sehingga penggunaan alkohol dimaksudkan untuk mengurangi kesadaran mereka akan pengalaman negatif dalam hidup (Pervin & John, 2000). Nah dari sini yang perlu kita perhatikan adalah mereka yang memiliki self-consciusness yang tinggi, alkoholik hanya salah satu elemen kelompok yang ada didalamnya.

seperti apa sih orang yang memiliki self-consciousness yang tinggi ? mereka biasanya adalah orang2 yang melakukan refleksi berlebihan tentang diri sendiri, sangat peka terhadap perasaannya dan mereka juga sangat waspada terhadap perubahan suasana hatinya. apakah kita termasuk dalam golongan orang-orang beresiko ini ? mmmmhhh tanya hati, buka pikiran ;)


oooh jadi orang yang yang memiliki Sef-Consciousness yang tinggi sangat peka dan mereka lebih rentan terluka, luka yang sama akan dipersepsi lebih menyakitkan dibanding orang dengan self-Consciousness yang rendah. dan sebenarnya sakit itu tidak pernah hilang dengan penggunaan barang-barang terlarang tersebut, apabila kesadaran kembali makan pedih juga ikut kembali, dan tak sanggup menahan luka maka kesadaran dikurangi lagi dengan barang-barang terlarang tersebut, terus seperti itu...

Pertanyaannya kemudian bagaimana memutus lingkaran setan ini, oke pedih itu tidak enak, dan kadang luka tidak bisa dihindari, luka yang sama bisa dipersepsi berbeda kemudian berdampak pada kecepatan penyembuhan luka itu sendiri. untuk mengobati luka kita harus berani melihat luka itu, membersihkan luka itu untuk kemudian mengobatinya. setelah itu kita perlu mempelajari hal apa yang membuat kita terluka agar kita tidak mengulang luka dengan kepedihan yang sama. Self-Consciousness yang berlebihan memang biang keroknya, namun pengurangan dengan penggunaan barang-barang terlarang ini sifatnya semu belaka, hanya sesaat. Self-Consciousness diperlukan dengan takaran secukupnya, ia tetap harus ada.. jadi untuk menyeimbangkannya agar tidak berlebihan mungkin dapat dimulai dengan memandang adanya orang lain yang hidup bersama kita di dunia ini, hidup tidak melulu tentang diri kita, saatnya melebarkan perhatian pada sekitar, mencoba memahami respon-respon yang terjadi merupakan hasil interaksi manusia dengan lingkungannya. pada akhirnya akan tercipta pengertian yang kemudian memungkinkan kita untuk mengembangkan sikap yang lebih positif terhadap apapun yang terjadi dalam kehidupan.




0 Comments:

Post a Comment



Newer Post Older Post Home