Komedi Romantis = Dunia Fantasi
13 years ago
Prolog :
Metafora selalu menarik dan membuat sesuatu lebih mudah dipahami, paling tidak saya merasa demikian. Saya sangat berkesan dengan artikel yang akan saya coba terjemahkan ini, menurut saya ini sangat bermanfaat untuk dibaca terutama oleh teman-teman yang bergelut di bidang pendidikan. Artikel ini bercerita tentang dilema dalam identifikasi dan pengembangan cerdas istimewa yang dikenal dengan istilah "Gifted."mari baca terjemahan artikelnya, semoga bermanfaat :)
Sebelum membaca terjemahan ini ada baiknya kita sama-sama membedakan dua istilah penting yang akan digunakan dalam bahasa aslinya. Perbedaan istilah tersebut didasarkan pengertiannya yang diambil dari kamus psikologi, adapun dua istilah tersebut antara lain :
- GIFTED : a. memiliki satu derajat kemampuan intelektual yang tinggi; memiliki IQ 140 atau lebih; b. memiliki satu bakat nonintelektif, seperti bakat musik sampai derajad yang tinggi sekali.
- TALENT : satu bentuk kemampuan khusus seperti kemampuan musikal yang diwariskan dari orang tua, dan memungkinkan seseorang memperoleh keuntungan dari melatihnya sampai satu tingkat yang lebih tinggi, talent dikenal dalam istilah umum sebagai bakat
Acapkali anak yang berperilaku baik di sekolah, mendapatkan nilai yang baik, memenangkan penghargaan dan "melakukan" sesuatu sesuai dengan norma untuk usianya itulah yang dikatakan sebagai anak berbakat.Sementara anak-anak yang tidak memiliki atribut yang disebutkan diatas, tak peduli kapasitas kemampuan intelektual bawaan yang mereka miliki atau level perkembangannya seolah kurang teridentifikasi dan terlayani sebagai anak berbakat.
Sejak cheetah dinobatkan sebagai satu-satunya binatang yang mampu berlari 70 mph maka jika kita menemukan binatang berlari secepat itu, itu pasti cheetah!



Upaya untuk mengembangkan tidak hanya terbatas pada kemampuan fisik namun juga strategi untuk menangkap antelope di alam liar, seekor cheetah perlu memiliki antelope untuk ditangkap, ruang untuk mengkapnya dan seekor cheetah senior sebagai role model untuk menunjukan kepadanya bagaimana cara menangkap antelope tersebut. Artinya tanpa instruksi dan latihan mereka tidak dapat belajar kemampuan bertahan hidup yang paling penting.
Artikel ini tidak secara lengkap saya terjemahkan, ada beberapa tambahan penjelasan agar terasa lebih jelas dan mungkin juga ada beberapa kalimat yang masih kurang tepat. Meskipun demikian saya harap dengan membaca metaphora ini dapat meningkatkan kemampuan kita dalam menganalisa situasi untuk kemudian melakukan tindakan-tindakan yang bermanfaat bagi pengembangan sumber daya manusia.. konteks dalam artikel ini memang khusus berurusan dengan siswa dan institusi pendidikan, bagaimana pentingnya upaya untuk mengenal anak sebagai individu sehingga kita dapat menerapkan perlakuan yang tepat untuk mengoptimalkan aktualisasi potensi yang ia miliki. Penilaian tidak melulu didasarkan pada perilaku yang ditampilkan saja? inilah pentingnya mengetahui potensi anak dan perbandingannya dengan perilaku yang ditampilkan....jika ada ketimpangan maka perlu dilakukan analisis apa yang membuat hal tersebut terjadi. Bagi saya metaphora ini juga dapat diterapkan dalam setting dunia kerja, untuk optimalisasi potensi yang ada pada diri karyawan. Secara pribadi saya sering medengarkan keluhan dari karyawan tentang ketidaksesuaian antara potensi yang terukur melalui tes-tes psikologi yang telah dilakukan perusahaan dengan kinerja yang ditampilkan karyawan,seperti halnya didunia pendidikan hal ini membuat perusahaan berbondong-bondong meletakkkan kriteria potensi yang dimiliki seorang karyawan terfokus berdasarkan perilaku yang ia tampilkan. Kisah tentang cheetah ini menurut saya sangat bermanfaat tidak hanya terbatas pada mereka yang dianugrahi kecerdasan atau bakat yang istimewa atau gifted, benang merah dalam metafora ini yaitu penggunaan analisis antara siapa dan apa diri individu serta bagaimana lingkungan yang pas untuknya sebagai dasar tindakan atau perlakuan akan mampu membuat individu berfungsi optimal siapapun dia, baik gifted ataupun tidak.
Labels: development, gifted, learning, school