Suatu ketika seorang anak muda mengalami tabrakan lalu lintas, ia terbanting dari sepeda motornya, tak ada luka yang berarti bahkan ia mampu kembali berdiri dan pulang ke rumahnya. ia terbanting keras dari motornya... namun tak ada kucuran darah yang begitu horor... beberapa jam kemudian ia mengeluhkan sakit pada tubuhnya dan segera dilarikan kerumah sakit... tak berapa lama ia pun pergi meninggalkan dunia fana... ada pembekuan darah yang menyumbat sirkulasi darahnya... benturan itu benar-benar keras.
Begitulah ilustrasi dari sebuah kiash yang nyata terjadi. Tak ada darah yang tercecer tak berarti kita dapat menyimpulkan tak ada luka. Bisa saja orang sudah merawat lukanya sedemikian rupa, atau sengaja menyembunyikannya hingga luput dari perhatian orang lain, atau bisa juga mengacuhkan lukanya atau bahkan tidak menyadari luka yang sedang mederanya. Semakin cepat dan tepat luka itu ditangani semakin cepat pula proses penyembuhannya dan akan memperkecil dampak negatif yang dapat ditimbulkan. benturan yang begitu keras perlu dicurigai... seharusnya terasa sakit, tapi mengapa ia tak mengeluhkannya ???
Luka yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbukan peradangan atau infeksi lebih serius luka dalam berdampak pada gangguan kerja organ sampai kematian karena ada darah karena yang tak tersalurkan kemudian membeku dan berujung pada penyumbatan sirkulasi darah....begitupula jika yang mengalami luka adalah jiwa. Luka bagaimanapun ia diperlakukan tetap memberikan sensasi tidak nyaman baik itu luka baik luar maupun dalam. Bagaikan luka kecil yang terus diindahkan kemudian berkembang menjadi borok yang lebih besar... peradangan yang semakin menjadi.. atau darah yang mengucur tak tersalur keluar berhenti membeku dan memngaggu kerja organ dalam tubuh, begitu pula luka atau ketidaknyamanan yang terus menetap didalam jiwa. Tentunya ini akan berbahaya jika dibiarkan begitu saja. Dalam keadaan terluka apalagi jika sampai mengalami peradangan atau kehabisan darah, seseorang akan membutuhkan kehadiran orang lain dan kadang tak punya cukup tenaga atau pun nyali untuk meminta bantuan atau sekedar mengingatkannya hey benturan yang kau alami begitu keras... untuk menyadari luka dalam yang ia derita. Untuk itu kita perlu meningkatkan kepekaan pada kondisi orang-orang terdekat disekitar kita... apakah benar mereka baik-baik saja ???
Nah jika kita menemukan gejala-gejala berikut belakangan ini terjadi pada diri seorang teman, keluarga atau orang-orang terdekat bisa jadi ia sedang mengalami "luka jiwa" dan butuh kehadiran orang lain untuk membantunya. Adapun gejala tersebut antara lain :
- Ia sepertinya tidak lagi peduli pada apapun disekitarnya
- Tidak seperti biasanya, belakangan ini ia menjadi pemurung, mudah tersinggung, mudah marah dan moody
- ia kehilangan minat kepada hal-hal yang sebelumnya ia sukai
- Ia menceritakan tentang perasaaan tak dapat ditolong dan tak lagi memiliki harapan
- ia memandang hidup sebagai suatu yang suram atau negatif
- seringkali ia mengeluhkan keluhan fisik seperti sakit kepala, sakit perut dan punggung yang pegal
- ia selalu mengeluh sering merasa lelah sepanjang waktu
- ia menarik diri dari teman, keluarga dan aktivitas sosial
- ia menjadi kurang tidur atau tidur berlebihan, begitu pula dengan pola makan
- ia menjadi pelupa, tak dapat mengambil keputusan dan berantakan
- ia menyalahgunakan obat termasuk penyalahgunaan obat tidur dan obat penghilang rasanyeri.
jika sebagian besar gejala tersebut belakangan ini ada dan menetap pada diri orang terdekat kita, tak ada salahnya kita menyampaikan perubahan-perubahan yang kita lihat tersebut kepada yang bersangkutan misal dengan mengatakan"sepertinya saya melihat perubahan pada diri kamu belakangan ini menjadi sedikit pelupa, saya hanya ingin memastikan apakah kamu baik-baik saja"
jika kemudian ia membuka diri tentang permasalahan atau "pendarahan" yang sedang ia alami... kita dapat memberikan "perban" untuk membantunya menghentikan pendarahan dengan menyampaikan hal-hal berikut ini :
- Kamu ga sendiri menghadapi ini, aku ada disini untuk mu
- Saat ini kamu mungkin tak percaya, namun perasaanmu ini nanti akan berubah
- Saya mungkin tidak dapat sepenuhnya memahami apa yang kau rasakan, namun saya peduli padamu dan ingin membantumu
- Kamu berarti buat saya, hidupmu penting bagi saya
- Katakan apa yang dapat saya lakukan untuk membantumu
- Aku ingin memberikan sebuah pelukan atau bahu untukmu menangis
- Hey kamu tidak gila dengan merasa seperti ini
- Saya paham dengan rasa sakitmu dan saya dapat merasakannya dll
Kadang kita ingin membantu meringankan penderitaan seseorang dengan mengipasi lukanya tersebut. Kenyataannya, lukanya tidak akan menjadi lebih baik dengan dikipasi kata-kata berikut ini :
- Itu semua cuma pikiran kamu saja
- Kita semua melalui saat saat seperti ini
- Lihatlah dari sisi baiknya
- Kamu memiliki banyak alasan untuk hidup, mengapa kamu memilih mati?
- Apa yang salah pada dirimu sehingga kau berfikir seperti itu ?
- Bukankah seharusnya kamu menjadi lebih baik mulai saat ini ?
- Seharusnya kamu bersyukur bukan bersedij seperti ini?
- Kamu tidak terlihat bersedih
- Kamu sangat egois
- Kamu tidak pernah memikirkan orang lain selain dirimu
- Kamu hanya mencari perhatian dan lain-lain
Kita dapat memberikan pertolongan pertama untuk mengatasi luka kepada si empunya luka dengan membantunya menerima bahwa benar ia terluka, dan adalah fitrah sebuah luka jika terasa sakit. Bukan justru mengajaknya meniadakan luka tersebut sehingga membuat luka terbiar, membuat darah membeku didalam, atau pendarahan terus berlangsung atau juga membiarkannya terinfeksi bakteri-bakteri yang justru menjauhkannya dari kesembuhan. Mungkin kita tak dapat merawat lukanya sepanjang waktu namun setidaknya taman kita dapat menyadari kemudian menerima lukanya dan segera melakukan tindakan pertama yang dibutuhkan untuk mengtasi luka sebelum kemudian ia memasuki masa-masa pemulihan.
Sources :
http://www.helpguide.org/mental/living_depressed_person.htm
http://psychcentral.com/lib/2010/best-things-to-say-to-someone-whos-depressed/
http://psychcentral.com/lib/2010/worst-things-to-say-to-someone-whos-depressed/
Labels: depression